Sudikah Pelanduk Mati Diantara Pertarungan Gajah

Polres Wonosobo Polda Jateng – Atau dia memilih berlari untuk tetap hidup dengan meninggalkan kesempatan menjadi tangan kanan sang gajah. Mengejar hidup yang biasa saja. Cukup untuk memberi makan perut anak-anaknya yang lapar. Meninggalkan sang gajah yang asyik bertarung sesama gajah. Toh selesai bertarung gajah akan lapar. Bisa mencari makan sendiri. Tanpa perlu si pelanduk untuk mengumpulkan buah-buahan.
Sedikit cerita yang menggambarkan situasi saat ini. Saat Top Manager sibuk bersih-bersih. Mengatasi segala carut-marut pelayanan publik yang penuh dengan “jalan pintas”. Siapa tak mau segala urusannya berlangsung cepat. Bahkan jalur yang bukan jalan saja bisa ditempuh agar sampai lebih cepat. Mengorbankan semua birokrasi dengan semua konsekuensi. Merogoh kocek lebih dalam pun tak mengapa. Asal semua bisa sesuai maunya.Bagi yang berkocek tak apa. Namun apa daya si fakir harta. Apakah hanya akan memandang tanpa bisa apa-apa.
Bukan salah orang yang bersih-bersih. Namun tak semata salah si pembuat kotor. Bukan pula si pencari jalan. Seperti sebatang pohon. Adakalanya menjadi peneduh saat hujan maupun panas. Namun adakala rontok daunnya mengotori halaman. Salah siapa? Sang Pohon? Matahari dan Hujan? Atau orang yang berteduh? Bukan. Namun adalah yang kemudian menebang pohon karena hanya melihat tumpukan daun keringnya. Bukan melihat teduhnya.
Seperti perbuatan “nithili koreng”. Membersihkan kulit dari bopeng hitam kasar. Terasa sangat mengasyikkan. Namun saat luka kembali terbuka dan mengeluarkan darah, apa yang dirasakan. Perih seluruh badan. Apalagi luka yang sudah mengakar. Sangat mudah terasa sakit namun sulit mengobati. Tersulut sedikit, api akan menghanguskan segala.
Dari semua metafora itu,nilai yang bisa kita ambil adalah pentingnya kesabaran, kesadaran dan terus membersihkan diri. Revolusi mental berasal dari sebuah niatan hati. Dilanjutkan perbuatan. Dimulai dari pribadi. Tanpa memandang besar atau kecil. Introspeksi melihat perbuatan sendiri sebelum menentukan kesalahan orang lain.
Kemudian seperti pilihan sang pelanduk. Memilih untuk menyelamatkan diri dan menikmati hidup dengan semua kekurangannya. Dan pula sang gajah yang menghentikan pertarungannya. Kembali mencari buah untuk ikut bertahan hidup. Jangan ada lagi pelanduk yang mati ditengah pertarungan sesama gajah.

Eko Rahmad Widodo / Bripka / 86040005 / Operator Humas Polres Wonosobo Polda Jateng

6 Trackbacks & Pingbacks

  1. Pendaftaran CPNS Kemenkumham
  2. TS TV Escorts from London
  3. Event Managers in Hyderabad
  4. binaural
  5. porno
  6. DMPK Services

Comments are closed.